Cerita Kisah Hantu Jeruk Purut

Ceritamitosdunia.web.id –┬áSekitar tahun 1990-an, cerita menyeramkan tentang hantu di pemakaman Jeruk Purut tersebar luas di Jakarta. Konon, ada hantu kepala buntung berkeliaran di sekitar kuburan. Hantu berpakaian saat seorang imam berjalan melalui kuburan dengan kepalanya. Dia mencari jalan kembali ke kuburnya. Tidak. Itu bukan hantu yang kutemui di sana. Makhluk yang saya temui tidak mencari jalan pulang. Dia ingin membalas dendam. Inilah ceritanya.

SBOBET adalah situs taruhan secara daring. SBOBET beroperasi di Asia yang dilisensikan oleh First Cagayan Leisure & Resort Corporation, Manila-Filipina dan di Eropa dilisensikan oleh Pemerintah Isle of Man untuk beroperasi sebagai juru taruhan olahraga sedunia. SBOBET menawarkan taruhan olahraga dalam beberapa bahasa. Sbobet biasanya disebut sebagai Situs Bandar Judi Bola Terpercaya yang sudah dikenal di Indonesi sejak tahun 2014.

Seperti kebanyakan anak muda, saya dan empat kawan, ingin mencari sensasi seru. Setelah mendengar cerita hantu Jeruk Purut, kami segera susun rencana membuktikan tidak ada sosok seperti itu di dunia ini. Caranya, dengan mengikuti syarat yang diceritakan orang-orang.

“Harus datang ke pekuburannya di tengah malam Jumat dengan jumlah orang ganjil,” kata Putra menirukan cerita yang didengar dari kawannya .

Atas nama kesetiakawanan dan kegagahan, saya iyakan ajakan mereka untuk ke pekuburan itu di tengah malam Jumat. Rasanya bakal seru dan aman-aman saja. Ternyata perkiraan saya salah…

“Cuma bisa sampai sini, nih, mobilnya. Kita jalan ke dalam,” kata Putra.

Kami berempat berpandangan tak yakin. Waktu sudah cukup larut, gelap pekat, dingin, dan sejujurnya saya lumayan takut.

“Ahhh, penakut amat, sih! Ngapain juga ikutan kalau enggak ke dalam?” ketus Putra.

Alhasil kami berlima turun dan mulai menyusuri pemakaman. Sekitar 10-15 menit berjalan kaki, Putra mulai mengeluh.

“Haaah, nggak asyik. Cuma gini aja, nih? Mana, tuh, pastur kepala buntung? Takut kali sama kita. Kuntilanak, kek, minimal. Genderuwo, kek… Haaaah, udah, balik ajalah!” kata dia sambil menginjak-injak kuburan yang dilewati.

Kami pulang dan menginap di rumah Putra dan tidur di lantai kamarnya. Tengah malam ia mengigau dan terbangun berteriak. Katanya mimpi buruk. Di pagi harinya suhu tubuh Putra sangat panas. Ia terpaksa tak masuk sekolah. Bahkan sampai hari Selasa kami masih belum lihat Putra di sekolah.

“Put, lu kenapa nggak masuk lama banget?” tanya saya sebelum pelajaran dimulai.

“Demam,” jawabnya lemah, sambil menatap lantai.

“Masuk angin kali, ya, waktu itu? Udah sembuh lu?” tanya saya lagi.

Dia diam sambil terus menatap lantai tanpa berkedip.

“Put? Lu nggak kenapa-kenapa, kan?” tanya saya serius.

“Gue nggak bisa hilangin bayangan wajah di mimpi gue. Dari malam Jumat itu, mimpi gue masih sama,” kata dia.

“Mimpi apaan?” saya mulai heran.

“Laki-laki. Tinggi. Hitam. Lehernya ada bekas sayatan dalam,” kata dia.

“Ah… Lu mah. Masih soal hantu Jeruk Purut ya? Tauk ah…” kata saya seraya pergi meninggalkannya.

Baca juga : Misteri Kuyang

Hingga sepekan sejak kejadian itu Putra masih bertingkah aneh. Tak lagi berisik seperti biasanya. Banyak diam dan menatap nanar. Kulitnya juga pucat dengan area mata menghitam. Di kantin, saat kami duduk berseberangan, ia bahkan sempat menunjukkan ‘kemampuan’ baru. Ia menggerakkan gelas tanpa menyentuhnya sama sekali. Katanya, itu belum seberapa.

Lama-lama makin terasa ada yang aneh dengan Putra. Ia juga sering marah-marah tak jelas.

“Ada yang aneh sama Putra, ya?” kata Pak Andi, guru olahraga, pada saya di sisi lapangan sambil menatap Putra dari kejauhan.

“Aneh bagaimana, Pak?” tanya saya berlagak tak tahu.

“Saya rasa dia nggak seperti Putra yang kita kenal. Coba ajak dia ke kampus saya nanti malam sekitar jam delapan,” kata Pak Andi.

Setelah mengobrol dengan kawan-kawan saya baru tahu Pak Andi memang mendalami urusan spiritual. Saya dan teman-teman sepakat mengantar Putra ke kampus tempat Pak Andi belajar. Lokasinya di pusat Jakarta.

Makin dekat kampus itu, Putra yang kami ajak tanpa bilang alasan sebenarnya, mulai bertingkah. Ia mulai menggedor-gedor pintu mobil, katanya ingin keluar. Kami coba tenangkan dengan bilang ada latihan tambahan oleh Pak Andi. Ia tenang sebentar, meski napasnya tetap memburu.

Situs Joker338.org merupakan Agen SBOBET88 resmi dan terpercaya yang memberikan jasa pendaftaran dan pembuatan akun bola Sbobet serta memberikan pelayanan dalam hal transaksi deposit maupun withdraw serta membantu member yang ingin melakukan Login SBOBET secara mudah, cepat dan aman melalui komputer atau android.

Kami menunggu sekitar 10 menit di lapangan basket. Pak Andi datang dengan dua orang temannya. Ia menyuruh kami memegangi tangan Putra sementara ia mengucapkan kalimat-kalimat yang tak tahu bahasa apa.

Putra berontak dan bicara dengan suara berat yang aneh. “Mau apaaaaa?” katanya.

“Kamu siapa, mau apa ke sini?” tanya Pak Andi.

“Saya nggak terima! Saya nggak terima! Saya nggak terima!” begitu terus yang keluar dari mulut Putra.

“Nggak terima apa? Kenapa kamu diam di dalam badan Putra?” tanya Pak Andi.

“Dia nggak sopan! Dia nggak sopan!” ucap Putra sambil berontak sampai kami kewalahan memegangi tangannya.

“Kamu mau keluar sendiri atau mau kami paksa keluar?” tanya Pak Andi lagi.

Putra menggeram sambil terus memberontak dan bergumam aneh. Tak lama, Pak Andi menyuruh dua temannya memukul Putra. Setelah menerima pukulan bertubi-tubi, Putra tiba-tiba lunglai dan muntah-muntah. Pak Andi minta kami berdoa sambil mengelilingi Putra. Tiba-tiba Putra berdiri, mendatangi Pak Andi, berbisik. Lalu jatuh dan pingsan.

Saya dan seorang teman merasakan ada angin seperti orang berjalan melewati kami dan terdengar suara ada yang melewati rumput ilalang di dekat lapangan itu. Kami angkat Putra ke mobil. Di perjalanan, ia terbangun. Bertanya apa yang terjadi. Kami ceritakan yang sudah terjadi. Ia hanya bilang, tiap kali tutup mata, sosok laki-laki dengan leher tergorok terus muncul di kepalanya. Berkata hal-hal mengancam. Tak lama, ia tidur lagi hingga kami antar ke rumahnya.

Esoknya, Putra sudah kembali ke sekolah dengan wajah lebih normal.

“Pak, kemarin Putra bilang apa sebelum pingsan?” tanya saya ke Pak Andi.

“Katanya, siapa pun yang malam itu ke Jeruk Purut mencoba datang lagi, keluarnya sudah tidak dalam keadaan hidup. Jadi, kamu dan teman-teman lebih baik enggak ke sana lagi, ya,” kata Pak Andi.